Rabu, 02 Maret 2011

PEMBAHASAN PUISI SURAT DARI IBU DAN PUISI CITA-CITA

Analisis kebahasaan dan makna

Puisi 1 : Surat dari Ibu, karya : Asrul Sani

Bait ke- / Baris ke-

Larik Puisi

Makna

Bait I



Baris 1

Pergi ke laut lepas, anakku sayang

mencari pengalaman dan menambah wawasan

laut lepas = kata simbol (=dunia / masyarakat / ilmu pengetahuan / kehidupan)

Baris 2

pergi ke alam bebas!

Alam bebas = kt. Simbol (=membebaskan pikiran; menambah wawasan agar pergaulan dan pengetahuannya luas)

Baris 3

Selama hari belum petang

Selama sang anak belum menadi tua

Petang = kiasan; simbol (=tua)

Baris 4

dan warna senja belum kemerah-merahan

Dan pemikirannya belum penuh dengan beban pemikiran tentang hidup

Senja belum kemerah-merahan = suasana suram / pekat; menggambarkan pikiran orang tua yang penuh dengan permasalahan hidup

Baris 5

menutup pintu waktu lampau

Kita tak mungkin kembali ke masa lalu

Ket :

· baris 4-5 mengandung majas personifikasi; karena hari diandaikan berlaku seperti manusia (menutup pintu)

· baris 3-5 mengandung citraan / imaji visual

Bait II



Baris 1

Jika bayang telah pudar

Jika pengalaman yang didapat telah banyak ; digambarkan dengan kata-kata konkret pada baris 1-2 yang menggambarkan hari sudah senja. (Jika bayang telah pudar berarti hari sudah mulai senja / dan elang laut pulang ke sarang juga pada waktu senja). Artinya, pengalaman dan pengetahuan yang didapat sang anak sudah banyak / sudah mencukupi.

Baris 2

dan elang laut pulang ke sarang


Baris 3

angin bertiup ke benua

Angin bertiup ke benua / daratan saatnya para nelayan kembali pulang ke darat; artinya saatnya sang anak kembali pulang.

Baris 4

Tiang-tiang akan kering sendiri

Tiang-tiang akan kering sendiri artinya kedewasaan dan jiwa sang anak sudah kokoh oleh pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh

Baris 5

dan nakhoda sudah tahu pedoman

Nakhoda simbol seorang pemimpin yang memimpin kapalnya.

Kapal simbol kehidupan / perjalanan hidup seseorang

Jadi, nakhoda sudah tahu pedoman = pemimpin yang sudah tahu tujuan hidupnya. Sang anak diharapkan sudah tahu tujuan hidupnya

Baris 6

boleh engkau datang padaku!

Maka sang anak boleh menceritakan seluruh pengalaman dan kesuksesannya kepada sang ibu.

Bait III



Baris 1

Kembali pulang, anakku sayang

Sang ibu meminta anaknya pulang

Baris 2

kembali ke balik malam!

Kembali untuk menenangkan diri dan beristirahat / berkumpul dengan keluarga

Malam menggambarkan keadaan; saatnya seluruh anggota keluarga berkumpul dan beristirahat bersama

Baris 3

Jika kapalmu telah rapat ke tepi

Jika perjalanan hidup; tujuan hidup sang anak telah tercapai

Digambarkan dengan kapal telah merapat ke tepi (biasanya kapal akan sandar / merapat ke tepi / pelabuhan jika telah sampai tujuan)

Baris 4

Kita akan bercerita

Kita (=sang ibu dan sang anak) saling menceritakan pengalamannya; melepas kerinduan

Baris 5

“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”

Menceritakan hal-hal yang baik (tentang kesuksesan sang anak dan bukan tentang keluhan atau kegagalan yang menyebabkan sang ibu bersedih) digambarkan dengan menceritakan tentang cinta; dan menceritakan rencana hidup sang anak di masa depan.

























































































Puisi di atas menyampaikan pengajaran / pendidikan kepada pembaca yang juga memiliki peran sebagai anak. Pengajaran tentang sikap yang seharusnya dimiliki anak jika ia telah memperoleh kesuksesan / keberhasilan. Maka, puisi Surat dari Ibu bertemakan pendidikan (budi pekerti).

Pengarang melalui puisinya (Surat dari Ibu) ingin menyampaikan suatu hubungan batin yang dekat antara ibu dengan anaknya. Ia mau menggambarkan betapa cinta seorang ibu kepada anaknya tidak berbatas hingga sang anak menjadi dewasa dan pergi meninggalkannya untuk menjalani kehidupannya sendiri.

Melalui puisinya pengarang juga mau menyampaikan pesan/amanat bahwa :

· kesuksesan seorang anak hendaknya tidak menjadikannya lupa kepada kedua orang tuanya, terutama ibu yang telah mengandung dan melahirkannya.

· Seorang ibu tidak pernah menginginkan kesuksesan ataupun buah kesuksesan anaknya (berupa harta/uang). Seorang ibu akan cukup berbahagia jika anaknya masih mau meluangkan waktu berkumpul dengannya untuk sekedar bercerita tentang pengalaman hidupnya dan kesuksesannya. Maka, seorang anak hendaknya selalu menjaga hubungan baik dengan selalu memperhatikan orang tuanya.



Analisis kebahasaan dan makna

Puisi 2 : Cita-Cita

Bait ke- / Baris ke-

Larik Puisi

Makna

Bait I



Baris 1

Kucari…

Tokoh Aku imajiner mencari

Baris 2

Kukejar…

mengejar

Baris 3

Kudamba sebuah cita-cita

Mendambakan (sangat mengharapkan) cita-cita

Baris 4

Tak akan pernah hilang

Keinginan itu tidak pernah hilang dari pikirannya dan kemauannya

Baris 5

Meski rintangan datang

Meskipun dalam proses mencapai cita-cita, ia mengalami halanggan (seperti rasa malas, materi yang sulit, dsb)

Baris 6

Setiap waktu

Keinginan mencapai cita-cita selalu teringat

Baris 7

Selalu terpatri di hatiku

Melekat kuat dalam keinginannya / kemauannya’ digambarkan dengan kata terpatri (seperti besi yang dilas)

Cita-citanya melekat kuat di dalam hatinya

Ket :

Baris 7 mengandung majas metafora; karena terpatri merupakan kata kiasan.

Baris 8

Tak sirna ditelan waktu

Tidak akan hilang meski hari demi hari berlalu (selalu konsisten)

Ket :

Baris 8 mengandung majas personifikasi; karena waktu digambarkan seolah berlaku seperti manusia (menelan)

Baris 9

Berderai semangat juangku

Berderai = melimpah = banyak tak terhingga; semangat untuk berjuang yang dimiliki Aku sangat banyak dan tak terhingga

Baris 10

Dan senyum untuk masa depanku

Sehingga ia dapat tersenyum (=bahagia) melihat dan mencapai masa depannya





































Puisi yang berjudul Cita-Cita juga memberikan sebuah pendidikan / pengajaran kepada pembacanya tentang sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang yang ingin mencapai cita-citanya. Kita harus gigih dan pantang menyerah dalam mencapai cita-cita. Rintangan atau halangan pasti ada tetapi hal itu tidak boleh mengurutkan cita-cita kita. Maka, tema puisi Cita-cita adalah pendidikan (budi pekerti).

Pengarang melalui puisinya (Cita-Cita) ingin menyampaikan amanat kepada pembacanya, antara lain:

· Kita harus berjuang untuk meraih cita-cita kita.

· Dalam meraih cita-cita, kita tidak boleh pantang menyerah walaupun menghadapi rintangan / halangan.

· Kita harus konsisten dalam berjuang dan mewujudkan cita-cita kita.

1 komentar:

  1. WOW Thanks Ya Atas Pembahasan Puisinya Jd Ngerjain PR BHS.INDO Gampang

    #Thanks

    BalasHapus